Menyibak Gurita Bisnis Narkoba di Riau dari Kemasan Susu Cokelat Isi Serbuk Putih

Menyibak Gurita Bisnis Narkoba di Riau dari Kemasan Susu Cokelat Isi Serbuk Putih

Kapolda Riau Irjen Agung Setya Imam Effendi menunjukkan ucapannya tindak tegas bandar narkoba. Seorang pengantar sabu, Hendra, wafat sesudah ditembus timah panas personil sebab menubruk mobil petugas di Kelurahan Sepahat, Kecamatan Bukitbatu, Kabupaten Bengkalis.

 

Agung menerangkan, personil Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau kemarin memperoleh info akan masuk sabu ke Pekanbaru dari wilayah itu. Kepolisian menyelidik info itu serta mengendusi usaha empat pria menyuplai barang haram itu.

Polisi hentikan satu mobil yang dikemudikan Hendra serta Syamsul Bahri. Bukanlah stop, Hendra memicu kendaraan Daihatsu Xenia menuju mobil petugas yang menghadang, Senin pagi hari, 9 November 2020.

“Sebab mencelakakan petugas, dikerjakan perlakuan keras hingga terdakwa wafat,” kata Agung ditemani Kabid Humas Polda Riau Komisaris Besar Sunarto serta Direktur Reserse Narkoba Komisaris Besar Victor Siagian.

Agung menerangkan, mayat Hendra telah ada di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau. Masalah ini masih juga dalam penyidikan untuk ungkap jaringan narkoba di Riau.

Saat itu, lebih Agung, Syamsul Bahri berperanan selaku pembawa dua karung besar berisi 20 paket sabu besar. Satu paket paket susu cokelat itu semasing berisi 1 kg sabu.

“Ini bingkisan baru sebab umumnya dalam paket teh, maksudnya menghindar analisis petugas,” kata Agung.

Masalah ini menangkap pria namanya Simpson Siahaan. Pria 50 tahun asal Kabupaten Pelalawan ini berperanan selaku pemantau Hendra serta Syamsul sepanjang perjalanan dari Bengkalis arah Pekanbaru.

Ke ke-2 terdakwa itu, Simpson menjelaskan perjalanan ke Pekanbaru telah bebas kendala. Ia menyebutkan sudah amankan beberapa faksi supaya pengangkutan 20 kg sabu itu berhasil.

“Terdakwa Simpson punya niat menukar plat nomor kendaraannya bernomor polisi,” kata Agung.

Agung menyebutkan kendaraan Simpson telah diambil alih penyidik selaku tanda bukti tindak pidana narkoba.

Tidak stop di Simpson, penyidik mengendusi keterkaitan masyarakat binaan di Lapas Kelas II A Pekanbaru namanya Sabaruddin Effendi. Nama ini diperhitungkan selaku pengontrol serta tahu siapa yang menerima sabu itu di Pekanbaru.

Namun, penyidik tidak dapat mengecek Sabaruddin. Bukan lantaran ketertutupan faksi Lapas tetapi sebab Sabaruddin tiba-tiba wafat sesudah tahu kaki tangannya ketangkap.

“Sesudah pengungkapan ini, kami mendapatkan info ia muntah darah pada akhirnya wafat,” kata Agung.

Agung menyebutkan Sabaruddin bukan orang baru dalam peredaran narkoba di Riau. Pria 54 tahun yang dipanggil Pak Cik Itan itu adalah terpidana masalah narkoba.

“Ia sedang jalani hukuman di Lapas sebab narkoba,” sebut Agung.

Walau telah berkali-kali ungkap peredaran narkoba di Riau, Agung mengatakan ada banyak pekerjaan rumah. Ia menyebutkan perlu usaha riil bersihkan Riau dari narkoba.

“Perlu usaha riil mendapati aktor di mana saja mereka bersembunyi,” keras Agung.

Satu apartemen di Batam, Kepulauan Riau, dipakai selaku pabrik pengerjaan narkoba macam sabu. 2 orang anggota sindikat pembikin sabu ini diamankan Polresta Barelang (19/10).

error: Content is protected !!