Self Watering System Unpad, Solusi Berkebun Hidroponik Tanpa Listrik

Self Watering System Unpad, Solusi Berkebun Hidroponik Tanpa Listrik

Kampus Padjadjaran lewat team periset dari Fakultas Industri Pertanian (FTIP) meningkatkan piranti hidroponik memakai konsep self watering sistem tiada energi listrik.

 

Piranti namanya smart watering ini ditingkatkan oleh dosen FTIP Unpad Sophia Dwiratna Nur Perwitasari, bersama lima mahasiswa FTIP diantaranya Diki Abdulah, Chaerul Amin, Shilvya Dewi Agustien, Annisa Nurdiah, serta Salma Waffiyah.

Produk ini adalah hasil hilirisasi Riset Landasan Favorit Perguruan Tinggi 2018-2019 yang dipimpin oleh Sophia. Di tahun 2020, smart watering diusulkan dalam pertandingan usaha yang difasilitaskan oleh Hibah Pengembangan Pre-Startup Mahasiswa Unpad (HIPSMU).

Diki menerangkan, pemakaian listrik khususnya untuk pengendalian air dalam hidroponik lumayan tinggi. Untuk itu smart watering datang untuk menangani persoalan itu.

“Dengan produk kami, manfaatkan style gravitasi, konsep Archimedes, serta kapilaritas itu rupanya hasilnya sama baiknya dengan metode yang menggunakan energi listrik untuk irigasinya,” papar Diki diambil dari situs Unpad, Minggu (8/11/2020).

Smart watering, katanya, bisa dipakai untuk bermacam macam tanaman serta sistem hidroponik, seperti substrat serta kultur air. Kecuali irit listrik, pemakaian smart watering dipercaya bisa tingkatkan efektivitas dalam pemakaian air serta gizi.

“Self watering sistem yang kita terapkan itu 100 % air serta gizi akan diserap oleh tumbuhan. Kita meminimalisasi proses evaporasi dari medium tanamnya,” tutur Diki.

Elemen yang dipakai mencakup tandon, tempat (bucket), katup (valve), serta aliran irigasi. Dalam pemakaiannya, lebih dulu tandon diisi air serta gizi. Sesudah dibuka keran, air serta gizi akan masuk di tiap katup yang berada di tempat. Katup itu yang akan mengendalikan pemberian irigasinya.

“Valve itu akan mengairi tiap bucket sama keperluan tanaman,” tutur Diki.

Dengan begitu, pemakai tak perlu menyirami air tiap hari. Cukup 1 minggu sekali atau sama babak tumbuh tanaman. Kecuali irit ongkos serta ramah lingkungan, pemakaian smart watering dipandang ringkas.

Konsep Diki serta team ialah ‘Bertani Tiada Ribet’, hingga mereka berusaha membuat produk yang gampang dipakai dengan hasil maksimal. Satu instalasi smart watering sendiri memiliki ukuran seputar 150×60 cm. Diprediksi satu instalasi smart watering bisa dipakai untuk 70 lubang tanaman sayur daun serta 10 tanaman sayur buah.

“Jadi dapat digunakan di teras-teras rumah atau pekarangan,” tutur Diki.

Semenjak September 2020, produk ini telah ditawarkan serta dipakai di beberapa wilayah. Dimulai dari Bandung sampai luar Jawa. Produk ini dibuat gampang dibungkus. Penempatannya termasuk gampang.

Dengan produk itu, Diki serta team mengharap warga, khususnya yang tinggal di perkotaan akan gampang berkebun di pekarangan tempat tinggalnya semasing. Diinginkan juga, produk mereka bisa berperan dalam tingkatkan ketahanan pangan Indonesia.

“Besar kami harap bisa juga buka lapangan kerja lewat produk ini. Sebab kami akan menghasilkan ke rasio yang semakin besar,” sebut Diki.

Tempat parkirkan kantor di teritori Arcamanik, Kota Bandung, disihir jadi petak pertanian hidroponik. Di halaman gedung perkantoran yang dinamakan Jodirexa Building itu, Jodimarlo pindah usaha selaku penjual juice pakcoy.

error: Content is protected !!